Good Night, Miranda

Aku memulai hari ini dengan awal yang tak biasa. Terjatuh dari tempat tidur, terpeleset di kamar mandi, menumpahkan segelas susu di lantai dan ban sepedaku kempis. Coba tebak? Ya. Aku berjalan 250 meter ke sekolah. Bayangkan saja? Aku pasti terlambat dan dihukum oleh Madam Angelia. Terdengar seperti nama yang bagus, tapi tidak seperti perilakunya. Bukan menggambarkan seorang peri di surga, tapi-yah, kau tahu. Kebalikannya.

Aku berlarian di lorong kelas. Dan.. BRUKK!!!
Aku tersandung. Dan, apa yang menyandungku tadi, merupakan penyebab kesialanku yang kesekian kalinya. Jika itu merupakan seseorang yang sengaja menggangguku, aku akan membalasnya! Dan jika itu benda, aku akan merusaknya! Kulirik kakiku yang kesakitan. Di bawah kakiku yang mengenakan sepatu pantofel hitam dan long stocking di atas lutut warna putih, terdapat sebuah buku. Terlihat berdebu dan kusam dengan warna merah tua dan gambar bunga berwarna pink cerah. Umm.. kurasa, pink kusam. “Kuralat, sepertinya aku tidak akan merusaknya.” gumamku sambil memasukkan buku tersebut ke dalam tasku.
“Buku apa ini?” gumamku lagi. Oh iya, aku harus cepat sebelum Madam Angelia memarahiku dan teman-teman menertawaiku!

Aku mengetuk pintu itu dua kali sebelum aku memasukinya secepat kilat seperti menembus pintu itu.
“Madam Harrison! Kenapa kamu terlambat lagi? Cepet, taruh tas kamu di meja! Terus, berdiri di depan! Angkat satu kaki kamu, sampai 10 menit, baru kamu boleh duduk!” omel Madam Angelia setibanya aku di kelas. Dan aku pun melakukan apa yang biasa teman-temanku lakukan jika terlambat. Berlari dan meletakkan tas, dan langsung melaksanakan perintahnya. Kulihat di bagian depan, ada Miranda, Delancy dan Rose menertawaiku dengan tatapan mengejek. Huh.. Ini dia yang membuatku sangat kesal!!!

Saat istirahat, aku meletakkan buku itu di atas mejaku. Kuusap bagian atas buku itu hingga debu itu tersingkir. Hmm… Ternyata gambar bunga itu memang berwarna pink cerah. Dan warna buku itu merah terang. “Caitlyn, kamu ngapain?” tanya Madison. “Itu buku apa Cate?” tanya Kyle. “Ini, aku tadi nemu buku di lorong kelas pas jalan ke sini. Aku juga nggak tau, ini buku apaan.” kataku sambil memperhatikan buku itu. “Yang jelas, ini semacam buku harian. Nih, ada gemboknya.” kata Madison. “Terus, kuncinya mana?” tanya Kyle. “Nggak tau, tapi aku pengen cari.” kataku. “Dimana?” tanya Kyle lagi. “Hmm.. Kita makan aja dulu ke kantin yuk!” kata Madison sambil menarik tanganku dan Kyle.

“Kyle, Madison, aku masih mau cari tau deh tentang buku harian itu. Masalahnya, kalo kita nggak cari kunci itu, buku itu bakalan jadi rahasia selamanya.” kataku. “Tapi kan, masih ada yang lain! Mereka bisa cari juga!” kata Madison. “Kan yang tau buku ini cuma kita! Lagipula, kalo Miranda, Delancy dan Rose tau, pasti mereka rebut buku ini dari kita!” kataku lagi. “Aku setuju deh.” kata Kyle. “Yaudah deh, aku mau.” kata Madison. “Naaah, gitu dong!!!” kataku dan Kyle sambil merangkulnya.

Keesokan harinya…
“Guys, menurut kalian, buku ini berhubungan dengan apa? Persahabatan, kasus, masalah, rahasia sekolah, rahasia murid SMP Glorious America, atau apa?” kata Kyle sambil ‘mengubek-ubek’ rak buku perpustakaan. “Misteri?” kataku mengheningkan suasana. “Jangan bilang gitu dong Cate, kalo gitu aku nggak jadi ikut deh..” kata Madison. Maklum, Madison memang penakut terhadap hal-hal yang berbau misteri. “Bisa jadi. Memangnya, ada yang taruh buku itu di lorong?” tanya Kyle. “Nggak tau sih, tapi aku nggak liat buku itu pas aku lari.” kataku. “Hmm.. Kita ke lorong, sekarang.” kata Kyle sambil menarikku dan Madison yang ketakutan.

“Ngg.. Disini. Disini tempat aku kesandung terus nemu buku ini.” kataku sambil menunjuk tempatku terjatuh kemarin. “Oke. Kira-kira, dimana kunci itu?” kata Kyle. “Kita cari jam istirahat kedua ya!” kataku dan Kyle.

Pada saat istirahat makan siang, jam 13.00. Madison pergi ke toilet. “Hhh… Caitlyn sama Kyle sama aja deh.. Suka banget sama misteri..” gumam Madison sambil mencuci tangannya. Dia melihat ke arah kaca yang ada di atas wastafel. Saat dia berkaca, keran itu menyala sendiri. “Loh kok nyala sendiri?” kata Madison sambil mematikan keran itu. Saat dia melihat ke kaca, ada sebuah tangan yang memegang bahunya. Ternyata, ada seorang anak perempuan 13 tahun yang mengerikan di belakangnya! Madison langsung berteriak dan berlari ke kelas.

Kyle datang ke kantin. Kyle melihat ibu kantin menyiapkan sup baso ikan di arah belakang kantin. Ibu kantin menghadap belakang. “Bu, aku minta sup baso ikannya ya,” kata Kyle sambil mengambil mangkok di atas meja. Saat ibu kantin menoleh ke arah Kyle, tubuhnya tetap di tempatnya, tidak berputar sama sekali. Hanya kepalanya yang berputar layaknya burung hantu. Ternyata itu bukan ibu kantin, melainkan seorang anak 13 tahun yang menyeramkan! AAAAAAAAA!!! Kyle langsung menjatuhkan mangkok itu dan berlari dari kantin.

Aku sedang menunggu Kyle dan Madison sambil memakan sosis bekalku. “Mana sih mereka? Katanya mau cari kunci itu di jam istirahat kedua. Hmmmmhh..” gumamku. Lalu, aku mendengar teriakan. Itu seperti suara.. Suara Kyle dan Madison! “Kalian kenapa?” kataku pada mereka yang ngos-ngosan. “Kalau aku sih, tadi, ketemu hantu di toilet.” kata Madison sambil mencomot sosisku dan menyengir kuda. “Kalau aku, ketemu hantu di kantin..” kata Kyle sambil mengikuti jejak Madison. Sosisku kini tinggal 1. Mereka hanya tersenyum jail sambil berusaha memfokuskan kepada pencarian kunci buku harian itu.
“Kita cari aja di seluruh area sekolah, pasti kita bakalan dapet. Tapi pencariannya ditunda dulu, kan besok kita ujian matematika.” kata Madison. “Kamu kok jadi pemberani gini ya?” tanyaku heran. “Yaa.. aku penasaran aja. Siapa tahu bukan tentang misteri??” kata Madison. “Bener kata Madison. Kalo gitu, belajar bareng di rumahku yuk!” kata Kyle. “Ayooo!” kataku dan Madison.

Di rumah Kyle…
“Aku masih bingung tentang hantu di sekolah tadi. Kira-kira siapa yang meninggal di sekolah??” kataku dengan wajah penasaran. Madison mengangkat bahunya sejenak. Kyle terlihat gugup. Dia sepertinya tahu apa yang terjadi di sekolah sebelum aku ada di sekolah ini. “Kyle, kamu tahu sesuatu?” tanya Madison yang melihat ekspresi Kyle juga. “Ada sih… Yang tahu hal ini cuma aku, dan…” katanya terpotong. “Siapa?” tanyaku penasaran. “Ada 2 orang lagi. Udah, lanjutin belajar aja yuk!!!” kata Kyle. Hmm.. aku jadi curiga.

Pagi hari saat masuk sekolah, kami mengerjakan ujian matematika dengan baik. Selesai ujian, aku, Kyle dan Madison makan burger di kantin. “Semoga, usaha kita belajar kemarin ada hasilnya…” kata Madison. “Iya, semoga nilai kita bisa bagus..” kataku.

Sepulang sekolah, Madam Felicia membagikan hasil ujian. “Madison Carter,” “Giorgino Lucello,” “Tommie Derkiens,” “Kyle Evangeline Cranston,” “Delancy Anderson,” “Kevin Lucas,” “Caitlyn Anatasha Harrison,” “Jonathan Frizzy,” “Rossiana Johnson,” satu persatu murid dipanggil. “Miranda Jennifer Gouston,” Miranda maju ke depan sambil memperhatikan semua murid yang telah memegang kertasnya masing-masing. Miranda juga melihat masih ada kertasnya dan satu lagi kertas di tangan Madam Felicia. “Madam, itu punya siapa? Semuanya udah dibagiin..” kata Miranda sambil mengambil kertas miliknya. “Ini milik… Chelsea Grenier. Ada yang bernama Chelsea Grenier disini? Atau, tidak masuk?” tanya Madam Felicia. Aku melihat Miranda begitu terkejut dan mengecek kertas itu dengan wajah ketakutan. “Madam letakkan disini, jika Chelsea masuk tolong berikan ya.” kata Madam Felicia sambil beranjak dari kelas. “Chelsea siapa?” tanyaku kepada Kyle. “Nanti, akan aku ceritakan.” kata Kyle. “Chelsea? Dia kok ikut ujian?” tanya Madison dengan berbisik pada Kyle.

Aku membuka lokerku dan mengambil tasku. Tiba-tiba, ada 4 kunci yang terjatuh dari dalam loker. Kunci-kunci itu dimasukkan dalam satu gantungan berwarna perak kusam. Di ujung gantungan kunci, aku melihat ada gulungan kertas. Aku segera mengambilnya dan memasukkannya dalam tasku.
Aku mencoba keempat kunci itu, tapi tidak ada yang bisa membuka. Padahal, bentuknya sudah pas. “Hmm.. Kyle dan Madison juga harus ikut bantu cari kunci lagi nih..” gumamku.

Kyle piket hari ini. Dia mengambil buku-buku di lemari kelas dan menyusunnya. Kemudian ada gantungan dengan 4 kunci dan gulungan kertas seperti yang kutemukan. Kyle meletakkannya di dalam kotak pensilnya dan memasukkan ke tas.

Madison ada les biola pada sore hari. Di lokernya, dia menemukan 4 kunci yang digantung dengan gulungan kertas. Madison senang dan memasukkannya ke dalam tasnya.

Besok paginya..
“Aku nemuin 3 kunci sama gulungan kertas kemarin.” kataku, Kyle dan Madison berbarengan. Kami langsung menunjukkannya di atas meja. Aku pun mencoba membuka gembok buku itu. Tapi, tidak ada kunci yang pas. Padahal semua kunci itu berbentuk sama. “Kita udah coba kuncinya, tapi belum buka kertasnya kan?” tanya Madison mengingatkan. Kami pun membuka kertas masing-masing. Aku melihat tulisan ‘I’m not lost’ tapi menggunakan tinta pulpen berwarna merah.
Aku memegang kertas itu dengan tangan gemetar. Madison langsung melempar kertas itu ke meja dengan takut. Kyle seperti mendapat informasi-Jika Kyle memegang benda yang memiliki kisah di dalamnya, dia akan diberi (tepatnya seperti diberi) wahyu tentang benda itu, cukup dengan meletakkan kedua jari tangannya di kepalanya dan memejamkan matanya. – dan terdiam. Ternyata isi di dalam kertas mereka sama dengan kertasku.

Siangnya, aku menemukan 1 kunci lagi di kolong mejaku. Kyle menemukan 1 kunci lagi di nampan makanannya. Madison menemukan 1 kunci lagi di mapnya.
“Kok kuncinya bisa ada di barang-barang kita gitu aja? Ada yang naruh disana??” tanya Madison heran. “Kalo gitu, nggak salah lagi, ini tentang misteri.” kata Kyle tegas. “Iya..” kataku yang mulai merinding.

Keesokan harinya, Madison tidak masuk sekolah karena sakit. Pada saat istirahat, aku dan Kyle makan snack dengan bungkus besar berdua. “Kyle, kamu inget nggak kertas itu? Kamu dapet informasi apa?” tanyaku sambil mengunyah snack yang enak itu. “Kamu janji kan nggak akan kasih tau siapa-siapa? Jangan kasih tau Madison juga?” tanya Kyle. “Iya.. oke..” kataku. “Kalau gitu, aku sekalian cerita tentang Chelsea juga ya. Jadi… Saat kelas 1 SMP, Caitlyn belum ada di sekolah ini. Ada murid bernama Chelsea Grenier. Dia adalah sahabat Kyle dan Madison. Dia cantik dan baik. Dengan rambut coklat keemasan dan tubuh semampai, tentu banyak yang menyukainya. Tidak terkecuali orang yang disukai oleh Miranda. Miranda sangat membenci Chelsea. Setiap hari Chelsea selalu sabar menghadapi perilaku Miranda. Apapun yang dilakukan Miranda, Chelsea tidak pernah membalasnya. Pada suatu hari, tanggal 13 April 2007, orang yang disukai Miranda (Milson) menyatakan cintanya pada Chelsea dan memberikan sebuket bunga mawar, sebatang coklat mahal dan boneka lucu yang membawa bantal hati bertulisan I Love You. Chelsea menerima Milson dan akhirnya mereka berpacaran. Miranda akhirnya mengetahui tentang itu. Dia pun sudah tak tahan lagi dengan Chelsea dan berniat menyingkirkan Chelsea. Dia sudah coba cara itu berkali-kali, tetapi keberuntungan selalu berpihak pada Chelsea. Akhirnya, Miranda melakukan hal terakhir yang akan berhasil menghancurkan Chelsea. Miranda berencana membunuh Chelsea!. Pada suatu hari, tanggal 13 Mei 2007 jam 13.00. Kyle akan pergi ke halaman belakang, tapi langkahnya terhenti karena dia melihat ada Miranda dan Chelsea di halaman belakang. Chelsea sedang diikat di sebuah kursi dan Miranda sedang membawa sebuah pisau yang cukup besar. Kyle nampaknya tahu apa yang akan dilakukan oleh Miranda. Kyle ingin menyelamatkan Chelsea, tapi dia melihat Miranda yang berjalan ke arahnya, maka dia berubah pikiran dan berlari dengan sangat kencang. Saat dia duduk di kantin yang berjarak 90 m dari halaman belakang, dengan kemampuan mendengar jarak jauh, dia mendengar Miranda berkata ‘Good night, Chelsea’ (bermaksud tidur untuk selamanya) dan suara jeritan yang diakhiri dengan tangisan. Dengan kemampuan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain yang dimilikinya, dia melihat banyak darah mengalir dari leher Chelsea yang disayat sepanjang 6 cm. Seketika Kyle pun menangis dengan airmata yang mengalir deras. Besoknya, semua menanyakan keadaan Chelsea. Miranda berkata bahwa Chelsea hilang. Mamanya juga bilang seperti itu. Karena, Chelsea memang tidak pulang
Terus, kalo sesuai pengamatan aku, buku itu milik Chelsea. Kunci-kunci itu ditaruh sama Chelsea. Dan, Chelsea masih ada di sekolah ini dan dia nulis kertas itu untuk kita karena dia percaya sama kita.” jelas Kyle sambil menangis mengingat kejadian tragis itu. “Madison nggak tau tentang ini?” tanyaku yang terisak sedih mendengar cerita Kyle. “Nggak, makanya jangan kasih tau dia ya, dia itu sayang banget sama Chelsea, setelah tahu Chelsea hilang saja, dia langsung menangis. Apalagi dia tahu Chelsea dibunuh sama Miranda? Pasti dia marahin Miranda habis-habisan.” kata Kyle sambil mengambil segenggam snack lagi. Digenggamannya, dia melihat kunci yang seukuran kunci lemari pakaian. Kepala kuncinya berwarna hitam terbuat dari plastik, dan badannya terbuat dari besi.
“Tunggu, kayaknya ini mirip kunci loker les biola Madison!” kataku. “Chelsea, ini kunci loker siapa?” tanya Kyle pada Chelsea lewat pesan pikiran yang tekniknya dikuasai olehnya, olehku dan oleh Chelsea. Aku berusaha memasuki pesan Kyle dan Chelsea. Kami memulai pesan pikiran.
“Kyle, ini kunci loker les biolaku. Berikan pada Madison untuk membukanya. Disana, ada beberapa barangku yang tertinggal dan lupa kuambil sebelum hari aku meninggal. Dan, siapa nama temanmu itu?” kata Chelsea. “Oh.. Kenalkan, aku Caitlyn Anatasha Harrison. Cukup panggil aku Cate atau Caitlyn.” kataku. “Kenalkan juga, aku Chelsea Grenier. Kita akan berbicara lain kali. Sudah waktunya aku kembali hari ini. Besok, kita akan bertemu. Aku janji..” kata Chelsea. “Baiklah.. Bye..” kata Kyle.

Besoknya, kami memberikan kunci itu pada Madison. Keesokannya lagi, Madison membawa barang yang dia temukan di loker itu. Katanya, kunci itu pas dengan lubang kunci di loker Chelsea. Aku dan Kyle hanya tersenyum tipis dan melihat barang-barang Chelsea yang ada. Ada sebuah kotak pensil berwarna pink, pensil kuning muda dari Paris, penghapus warna pink, buku-buku catatan berwarna biru muda, ungu muda dan kuning muda, beberapa pulpen warna ungu dan pink, 2 kaus ganti dari tempat les, buku not lagu, dan ada beberapa fotonya sedang memainkan biola, lalu ada juga yang berbentuk pasfoto. Itu mungkin dipakainya saat mendaftar les biola. Ada 3 pasfoto disitu, kami mengambilnya masing-masing satu, untuk kenang-kenangan. Dan, ada juga kalung warna pink dengan gantungan sebuah kunci yang mirip, persis! Persis seperti kunci yang aku, Kyle dan Madison temukan! Dan, di dekat kunci itu, ada sebuah gulungan kertas. Tulisannya, ‘Tell the truth, about 13′ dengan tinta merah. Aku paham betul maksud kata-kata itu. Maksudnya, Chelsea meminta kami untuk memberitahu yang sebenarnya kepada orang-orang yang diberitahu informasi palsu dari Miranda. Aku yakin kalian juga paham kan? Tapi, ada yang membuatku bingung. About 13? Ada apa dengan 13?

Saat pulang sekolah, mereka sedang memakai tas mereka dan siap-siap pulang. “Madison, aku, Caitlyn dan Chelsea punya sesuatu untuk diungkapkan. Tapi kamu janji, kalau udah ketemu Chelsea, kamu jangan marah sama siapapun. Termasuk Miranda. Karena kalau kamu marah, sama aja kamu nyakitin Chelsea.” kata Kyle. “Ketemu Chelsea??? Aku janji deh! Aku bakalan lakuin apapun buat ketemu Chelsea! Iya, aku janji!” kata Madison bersemangat. “Ya udah, kamu ikut aku ya..” kataku sambil menarik tangan Madison.

Kami berada di halaman belakang. Tak kusangka, kursi yang digunakan Chelsea masih ada di pojok teras halaman belakang. Terdapat tali-tali yang beberapa masih melilit kaki kursi, juga bercak-bercak darah yang melumuri beberapa bagian tali. Ada yang penuh darah sekitar beberapa cm. Itu mungkin tali yang digunakan untuk mengikat Chelsea di bagian bahu. Entah mengapa, saat diceritakan Kyle, aku tidak merasa takut, sedangkan hanya merasa sedih. Sekarang, aku membayangkan kondisi Chelsea saat itu. Kulihat lagi foto Chelsea yang kusimpan. Aku membayangkannya sedang duduk disana dan disiksa oleh Miranda. Aduh, aku tak tega melihatnya. Segera kuhapus bayang-bayang itu, dan aku segera memanggil Chelsea. “Chelsea! Chelsea!” seruku dan Kyle.
“Hei, Kyle, Madison, Caitlyn!” kata seseorang dari belakang. Kami pun melihat ke belakang. “Chelsea!” seru kami bertiga. “Chelsea, kamu kemana aja? Aku kangen banget sama kamu..” kata Madison sambil hendak memeluk Chelsea. “Madison!” kata Kyle mengingatkan. Dia tahu, Madison tidak akan bisa memeluk Chelsea. “Madison, aku juga kangen kamu. Tapi, lihat.. Tidak ada yang mau kaupegang disini! Lihat, disini kosong!” kata Chelsea sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Aku hanya mau peluk kamu, aku kan udah lama nggak ketemu kamu, tapi gak papa kalo kamu nggak mau kok..” kata Madison sambil berbalik arah. “Madison! Coba pegang tanganku!” kata Chelsea ingin membuktikan. Madison segera meraih tangan Chelsea, tapi entah mengapa, saat dia melihat kembali apa yang digenggamnya, dia tak merasakan ada tangan Chelsea disana! Hanya ada angin! Madison menatap Chelsea heran. Dia masih mengira Chelsea berpura-pura menjadi tubuh yang bisa ditembus oleh tangan manusia. Ternyata, Chelsea menangis. Dia sangat sedih. “Kamu takkan pernah memegangku lagi, Madison. Terakhir kau memegang tanganku adalah saat istirahat kedua, tanggal 13 Mei 2007. Saat itu adalah hari ulang tahunku. Kamu dan Kyle mengajakku untuk makan spaghetti di kantin. Tak kusangka, itu spaghetti terakhirku..” katanya sedih.
Aku mengingat sesuatu. Buku hariannya! Aku langsung mengambil kunci yang ada di kalung Chelsea dan membuka gembok di buku itu. Kubaca semua isinya dengan cepat ketika Chelsea, Kyle dan Madison sedang bercerita tentang hari itu, tanggal 13 Mei 2007. Sesekali aku mendengarkan cerita mereka, tentang masa lalu mereka di kelas 1 SMP. Banyak sekali kisah yang sama dengan yang ada di buku Chelsea! Aku tercengang. 13 Mei adalah hari ulang tahun Chelsea, dan 13 Mei 2007 adalah hari terakhirnya! Ini dia. Ini dia yang dimaksudkan Chelsea sebagai ‘About 13′. 13! Dia lahir pada tanggal 13 Mei 1994, dan meninggal pada tanggal 13 Mei 2007, dengan usia 13 tahun, pada jam 13.00! Dan, 2007. 20-07= 13!! Jumlah kunci yang dia berikan hingga menemukan kunci utamanya, 12 kunci kecil dan 1 kunci besar! 13 kunci! Lalu, tanggal dia berpacaran dengan Milson, tanggal 13 April 2007! Ini semualah yang dimaksud About 13.

Hari ini tanggal 12 Mei 2008. Hampir satu tahun Chelsea meninggalkan dunia ini. “Jadi.. Kamu udah beda sama kita?” kata Madison memastikan. “Iya. Jadi, kita nggak akan bisa gandengan, pelukan lagi. Udah terlambat 1 tahun..” kata Chelsea. Madison tetap kangen sama Chelsea, dan mencoba memeluknya. Tanpa disangka, Madison bisa memeluk Chelsea! Tubuh Chelsea menjadi tidak tembus begitu Madison memeluknya! Dan, Chelsea berubah menjadi mengenakan seragam sekolah mereka. “Sayangnya, besok kita bisa ketemu cuma sampai jam 13.00. Udah setahun, aku bebas ada di dunia. Besok, jam 13.00, aku harus udah pergi. Jadi, sempatin buat ketemu aku buat yang terakhir kalinya ya..” kata Chelsea sambil menguatkan dirinya agar tidak tembus dan memeluk mereka. “Terimakasih, buat jadi sahabat aku hingga aku telah tiada. Caitlyn, makasih banyak ya. Madison, Kyle, Cate, be my Best Friend..” kata Chelsea yang perlahan-lahan menghilang. “I REALLY MISSING YOU!” seru Madison menahan tangisannya.

Siang hari, jam 13.00. Aku, Kyle dan Madison bertemu Chelsea. “Aku berjanji, akan menjaga kalian kapanpun kalian terkena bahaya. Walaupun kamu tak bisa lihat aku, tapi aku ada disana. Melindungi kalian. Aku mohon, kasih tau tentang aku yang sebenernya sama ibuku dan teman-teman. Jangan lupain aku ya. Aku juga nggak akan pernah lupain kalian..” kata Chelsea. “Kami nggak akan lupain kamu. Kalau gitu, selamat tinggal..” kata Kyle sambil berlari. Aku dan Madison mengucapkan salam perpisahan, lalu mengikuti Kyle.

Aku membawa kapak yang tajam dan menyeretnya mengelilingi Miranda yang kuikat dengan kursi tempatku diikat dan dengan tali yang dipakai untuk mengikatku.
“Ini adalah waktu yang tepat untuk membalas semua sikapmu, yang selalu menggangguku..”
“Nggak, Chelsea. Nggak! Aku nggak mau bernasib sama kayak kamu!”
“Aku akan melakukan ini dengan lebih keras, itu melambangkan kejahatanmu terhadap aku sebelum aku disiksa olehmu,”
“Nggak! Aku nggak mau! Tolong aku! Tolooong! Toloooong!”
“Tidak ada yang akan dengar. Kita ada disini, di alam yang beda. Ada penghalang di antara dunia kita dulu dan yang sekarang, sudah sepantasnya kau ada disini. Dikurung dan disiksa sebagaimana kau menindas dan menyiksa teman-temanmu!”
“Nggak! Ini cuma mimpi! Nggak!”
“Sejarah 13 Mei bukan cuma ada namaku. Setahun yang lalu, kamu yang membuat namaku tercantum disana yang membuatku berpisah dengan orang-orang yang kusayangi. Tahun ini, Sejarah 13 Mei akan berlanjut, dan terus menerus hingga akhir jaman. Akan ada nama baru yang terisi setiap 13 Mei, mulai tahun 2007, 2008, dan seterusnya. Dan tahukah kau siapa nama yang akan mengisi tahun ini?”
“Nggak! Itu cuma terjadi 13 Mei 2007! Dan nggak ada kasus yang sama untuk tahun-tahun berikutnya!”
“Akan kuberitahu namanya. Namanya adalah Miranda Jennifer Gouston. Kamu kenal dia? Oh.. Dia sudah siap untuk menerima pembalasannya!”
“Nggak!!!! Nggak ada yang siap untuk itu! Yang siap cuma kamu, dan kamu nggak akan bisa..”
“This is the night, when moon is come. Picking up you, into the sky. Goodnight, Miranda!!!” aku menebas kepala Miranda dengan keras
“AAAA..” hanya jeritan itu saja yang mampu kudengar.
“Miranda, maafkan aku, mari ikut aku,” kataku sambil menggandeng nyawanya yang masih tertidur dan mengajaknya pergi ke duniaku.
Miranda, remember, YOU’RE NOT THE LAST.

Cerpen Karangan: Aisyah Nuraini
Facebook: Aisyah Nuraini

Read More
9 tahun ago
0 4
9 tahun ago
0 3
9 tahun ago
0 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Best Dating Sites
Platform Pengiriman Pesan Instan
Platform Sosial Media

Top Profiles
Siska Media di TikTok
10.0/10
Siska Media di TikTok
Channel Siska Media di Youtube
10.0/10
Channel Siska Media di Youtube