100 Tahun Setelah Aku Mati ( Bagian 34 Sudut Pandang Risa )


kringgggggg.
suara jam beker itu sangat nyaring dan benar2 membuat aku langsung terbangun dari tidurku yang tidak lama, alaram yang berbunyi mengartikan kalau jam sudah menunjukan pukul 4 pagi, semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.
aku mengucek mata yang masih sangat terasa kantuk,aku mematikan alaram yang terus berdering itu. klek begitu bunyi tombol yang kupencet,
aku masih terduduk dikasur, biasanya kesadaranku belum pulih di beberapa menit awal setiap aku bangun pagi, tapi hari itu berbeda, aku menggenggam jam waker itu,
jam yang berbentuk tokoh kartun hello kitty, ini adalah salah satu benda favoritku, karena ini adalah hadiah ulang tahunku dari mas rizal tahun lalu.
“biar bisa bangun lebih pagi dari aku, masak cewek bangunya lebih siang dari cowoknya” begitu kata mas rizal saat aku membuka bungkus kado yang dia berikan,
dan hari ini juga adalah hari yang sangat khusus, kenapa? karena ini adalah hari dimana mas rizal harus pergi meinggalkanku untuk melanjutkan studynya di Australia.
saya tidak ingin sedetikpun waktu terbuang sia2 di hari terakhirku bersama mas rizal, laki-laki yang paling aku sayangi selain ayahku, mungkin tidak berlebihan aku menyebut rasa sayangku sebagai cinta.



pikiranku secara tidak sadar memaksaku mengingat saat awal bertemu dengan mas rizal, cupu, kuper, aneh, jutek, dan misterius, itulah kesan pertama saat aku bertemu denganya..
kami tidak sempat menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatan mas rizal, karena dia harus mengurus seabrek dokumen kepindahanya…
quality time terakhir kami adalah saat selesai mengurus visa dan imigrasinya sebulan lalu, kami menyempatkan berjalan2 disebuah tempat yang menurutku sangat romantis,
Waduk sermo, satu2ya waduk yang ada di jogja yang terletak di daerah paling barat provinsi DI Yogyakarta ini merupakan tempat terakhir dimana aku dan mas rizal bisa sedikit berpiknik bersama.
ingatanku kembali berputar ke masa lalu, saat awal kedekatanku dengan anak misterius itu, pendiam tapi cerdas, pemalu tapi berani, cuek tapi sangat perhatian dengan lingkunganya.
aku seperti tersedot ke pesonanya, entah sihir macam apa yang dia punya hingga aku merasa sangat tertarik mengenalnya lebih jauh kala itu,
dia benar2 unik, mungkin orang lain seperti dia lahir dalam perbandingan 1 : 1.000.000, tapi …. setiap kali aku mencoba mendekat aku merasa terbentur sesuatu.
seperti ada sebuah dinding tidak terlihat yang membuat aku segan.
sifatnya yang cuek dan jutek membuat dia tidak menyadari banyak cewek yang menaruh hati kepadanya, karena selain dia bisa dikatakan ganteng dengan postur tubuh yang tinggi besar, dia juga punya banyak bakat,
dia adalah atlet silat, dia jago basket, bermusik pun dia bisa, dia juga si juara kelas karena dia sangat pintar. kalau dia tipe tukang pamer kayak cowok pada umumnya mungkin dia akan sangat populer,
tapi mas rizal enggak. dia memilih diam dan menutup diri, dia enggan membagi dunianya kepada orang lain, sorot matanya tajam dan fokus saat melihat sesuatu,
beberapa kali kesempatan kami saling berpandangan, dan matanya yang tajam benar menusuk hatiku..
bingung.. hal yang aku rasakan saat ada getaran2 aneh itu, bertahun2 aku mencoba dekat denganya untuk lebih tau tentangnya, tapi aku tidak pernah cukup dekat denganya..
aku kemudian memilih diam dan melihatnya dari jauh dengan jarak yang sebisa mungkin ku pangkas agar bisa lebih dekat denganya..
ada keasikan tersendiri selama aku memperhatikan tingkahnya yang menurutku lucu dan aneh, dia terlihat kikuk di saat di keramaian tapi dengan sekejab dia dapat menguasai keadaan,
dia pendiam bahkan tidak akan berbicara kalau tidak diajak terlebih dulu, tapi sekali bicara, suaranya tegas dan jelas, argumen2 yang dia ucapkan selalu tepat dan terkesan cerdas.
dulu aku bertanya2 terus dalam hati “apa aku suka dia?”, sikapnya dingin tapi dia bisa menjadi sosok yang sangat perhatian…
rizal rizal… kamu benar2 membuat segudang tanda tanya dibenaku…
tapi akhirnya aku tau, ada apa dibalik sikap dingin dan misteriusnya..
masa lalunya… yaaa masa lalunya yang membuat dia seperti ini, dia anak indigo yang ditinggal meninggal kedua orangtuanya secara tragis, dia jadi kurang bisa bergaul karena trauma dikucilkan saat masih kecil.
keadaan memaksanya untuk mandiri dan lebih kuat dari sebelumnya, kupikir setelah hasrat mengenal pribadi mas rizal sudah bisa aku penuhi akan membuat aku tidak begitu tertarik lagi denganya,
dan ternyata aku salah, aku semakin dibuat jatuh hati, jika dulu aku cuma kepo, sekarang aku jadi ingin terus bersamanya, atau sekedar menemaninya…
dan demi apapun aku bersyukur mas rizal juga mempunyai perasaan yang sama denganku, terhitung hampir 3 tahun aku bahagia bersamanya, sosok pelindungku,
dia benar2 menjagaku dengan sabar dan telaten, bahkan saat aku kecelakaan dan harus mendapat perawatan lama, mas rizal tidak pernah meninggalkanku,
“mas, aku bersyukur punya kamu” gumamku sambil beranjak dari kasur dan bersiap untuk menuju rumah mas rizal..



“assalamualaikum” aku mengucapkan salam didepan pintu bercat putih itu,
“walaikumushahlam” suaranya terdengar berat, mungkin itu om bowo.
om bowo :”ohhh cah ayu, monggo silahkan masuk “
aku masuk mengikuti om bowo dari belakang,
aku :”eh ya om ….”
om bowo :”diatas, dikamarnya kamu susul aja, bapakmu jadi ikut gak nok?”
om bowo seperti tau yang ada dipikiranku, beliau memanggilku denok. sebuah kata panggilan seorang perempuan yang dianggap masih kecil..
aku :”hehe om tau aja, iya om ayah bentar lagi nyusul kok, aku tak keatas dulu ya om”
aku melihat anak pendiam itu sedang sibuk memilih barang untuk dibawa,,
tubuhnya membelakangiku, dia belum menyadari aku sudah dibelakangnya, dia bertambah kekar karena rajin olah raga, berbeda sekali dengan dulu waktu pertama masuk sma,
dia masih seperti anak kurus yang sangat jangkung.
“mas” aku memanggilnya mas, sebuah kata panggilan sayangku padanya.
dia menoleh kearahku, seperti biasa dia tidak bicara, dia hanya tersenyum.. senyuman itu bahkan sampai sekarang selalu membuat dadaku bergejolak.
dia memainkan tanganya, mengisyaratkan agar aku menghampirinya…
aku menyalaminya dan mencium tanganya, semenjak resmi denganya aku memang membiasakan mencium tanganya, sekedar mengimbangi sikap dewasanya.
dia mengelus rambutku pelan, tiap dia melakukan hal sederhana itu dia selalu berhasil membuatku tersipu..
beberapa hal ringan kami obrolkan pagi itu, aku tidak henti2nya mengomentari barang yang dibawanya,
mataku memandang sekeliling kamar ini, dan perhatianku tertuju pada sebuah foto yang ada di sudut meja belajar mas rizal.
aku mengajaknya menilik foto kenangan itu..
“aku inget kok” kalau gak salah cuma itu yang dia ucapkan, dia memandang foto kami berdua sambil tersenyum, entah apa yang ada dipikiranya saat itu..
kami salang berbagi pendapat tentang kehidupanya disana,
“kamu harus sabar nunggu aku balik kesini, jangan punya cowok lagi disini” begitu pesanya kepadaku,
dia kembali ke kesibukanya menata barang2nya setelah aku goda dengan kata2ku..
berat, itulah yang akurasakan, melepasnya pergi selama bertahun2 benar2 membuatku seperti kehilangan sepotong bagian dari diriku,
aku melirik kearah cermin kecil didekat figura foto itu, aku sudah sangat berkaca2 menahan air mata yang hampir tidak terbendung mengingat beberapa jam lagi akan berpisah lama dengan mas rizal.
“5 tahun mas? apa selama itu?” aku memeluk lmas rizal, aku sudah tidak bisa menahan lagi emosiku yang meluap2.
air mataku meluncur deras, aku ingin sekali menahanya agar tetap disini bersamaku, tapi apa daya, dia memang harus pergi. masa depanya lebih penting dari egoku..
mas rizal selalu berhasil menenangkanku, itu adalah salah satu kelebihanya, apapun kondisiku dia selalu bisa membuat aku lebih tenang..
dia mencium keningku dan berkata
“kalau kamu nunggu 5 tahun untuk aku balik ke kamu, aku juga nunggu 5 tahun untuk bisa pulang kekamu”

sore itu kami harus berpisah, pesawat yang akan membawanya pergi sudah menunggu, aku cuma bisa pasrah dan melepasnya, berusaha sekuat mungkin menahan rindu yang pasti akan sangat menggangguku,
cupp.. tanpa diduga dia memberikan ciuman pertamanya kepadaku, bibir kami saling beradu dan memberikan sensasi aneh yang baru pertama aku rasakan,
dia berjalan pergi tanpa menengok, aku cuma bisa melihat punggungnya yang perlahan mulai hilang dikeramaian..
“mas, jaga dirimu, aku akan menunggumu disini”
.
.
.
“mas doakan aku ya, aku pasti lebih bagus nilai Unasnya dari pada kamu dulu”
aku sedang menelfon mas rizal, untuk meminta restu melaksanakan ujian nasional, sudah hampir setahun aku ditinggalnya, awal kepergianya benar2 membuatku kesepian,
aku benar2 kehilangan sosok orang yang selalu mendukungku, orang yang selalu menemaniku, dan memberikan perlindungan kepadaku..
tapi seperti kata mas rizal “aku selalu menemanimu, walaupun dari jauh aku akan selalu ada”..
ya dia benar dia menemaniku, dia pasti selalu menemaniku dalam setiap doanya..
aku harus bisa lebih baik dari ini, mas rizal adalah orang dengan semangat hidup yang besar, dia bisa dengan mudah menularkan semangatnya saat berada didekatku,
dan walaupun sekarang kami berjauhan, akan aku jaga semangatku tetap berkobar seperti semangatnya…
“aku harus lulus, dan masuk akademi perawat, mungkin besok aku bisa bikin praktek dokter sama mas rizal” aku memikirkan hal itu, impian kecilku…
banyak yang aku alami pasca mas rizal ke melbourne, tak mungkin rasanya jika di tulis di satu part dalam cerita ini jadi singkatnya aku berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan,
sama seperti mas rizal, aku juara umum, tapi dengan nilai yang sedikit dibawahnya, aku juga tidak seberuntung mas rizal mendapat beasiswa diliuar negeri,
tapi alhamdulillah, aku mendapat beasiswa di sebuah pts ternama di jogja, jurusan keperawatan. jadi aku bisa menemani ayahku..
hari demi hari terlewati, peristiwa datang silih berganti tapi tidak seharipun aku tidak merindukan mas rizal,
sedang apa dia sekarang? bagaimana rupanya sekarang?, apakah dia sehat?, apakah dia juga banyak fans disana? pikiran itu selalu datang di kepalaku..
dia pasti sehat, dia pasti baik2 saja dan dia pasti menjaga hatinya tetap untuku. saya mencoba berpikir selalu positif kepada mas rizal, aku tidak mau dianggap sebagai pasangan yang posesif.
di kampusku beberapa kali aku didekati, bukan beberapa kali tapi sering lebih tepatnya, aku sering didekati cowok dikampusku, mereka terkesan caper dan ngotot untuk dekat denganku,
entah kenapa mereka begitu ngotot ingin mendekatiku, kalau sudah begini biasanya aku cuma menanggapi seadaanya, aku gak mau dibilang cewek sombong kalau aku terlalu cuek,

di ukm musik aku berkenalan dengan seorang bernama Ari, dia adalah leader ukm musik di kampusku, dia adalah kakak tingkatku, dia sudah semester 6,
belagu, sok, adalah kata yang cocok menggambarkan orang itu, playboy juga adalah predikat yang pas dia sandang,
memang aku akui dia ganteng, musikalitasnya tinggi, suaranya memang bagus, tapi sikap aroganya membuatku jengah, dia adalah cowok yang paling genjar mendekatiku,
tiap hari selalu ada tawaran untuk mengantar jemputku, tapi selalu kutolak, selalu ada saja alasanya untuk pergi jalan denganya,
tapi percuma, selalu aku mencari alasan untuk tidak ikut denganya, tak terhitung sms yang tak kubalas dan telepon yang tidak kuangkat dari ari,
satu2nya yang bisa membuat dia dekat dengan aku adalah saat di ukm, mau gak mau aku harus mendampinginya karena posisiku sebagai wakil ketua ukm.
lama2 aku kesal juga dengan perlakuanya yang sedikit memaksaku,
sampai suatu hari ukm musik kampusku mendapat job diluar kampus untuk membuat sebuah konser kecil di sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari kampusku,
aku harus ikut, padahal aku lebih memilih dirumah dan chatingan dengan mas rizal, dari semalaman sama sekali tidak online, membuat komunikasiku denganya sedikit tersendat..
..
aku sedang bersiap untuk ke acara itu, tak lupa aku mengecek laptopku apakah mas rizal sedang online, tampaknya aku harus kecewa, dia sedang offline,
saya menghubungi nomornya, tapi yang terdengar adalah suara operator yang mengatakan nomornya sedamg tidak aktif.
mungkin sedang sibuk, atau sedang ada kegiatan, aku menghibur diri sendiri untuk memaklumi kesibukanya disana..
aku :”yahh, pamit dulu ya ada konser kecil di cafe deket kampus aku harus berangkat”
ayah :”yawis, jangan kemaleman, paling mentok pulan jam 10 ya”
aku :”siap komandan emoticon-Smilie “
aku berpamitan dan menuju ke depan gerbang dimana si belagu ari sudah menungguku dengan mobil baleno yang sering dia pamerkan…
dalam perjalanan dia tak henti2nya membanggakan diri, itu membuat saya bosan dan jengkel. orang yang jumawa seperti ini benar2 membuatku muak,
obrolanya sama sekali tidak berbobot, yang dia omongkan adalah mengenai dirinya sendiri yang dilebih-lebihkan, tak jarang dalam omonganya yang ketus dia menjelekan orang lain,
sebuah sikap yang paling kubenci…
malam itu cafe yang berada di pinggir jalan itu terasa sesak, penuh dengan mahasiswa, yang didominasi mahasiswa tingkat bawah, yang masih haus dengan suasana baru di kampus, dan mahasiswa senior yang mencari hiburan disela kesibukan skripsi mereka.
aku duduk di kursi deretan depan agar lebih jelas dalam menonton konser kecil yag dibuat semacam lomba anat band kampus, aku disini bertindak sebagai seorang juri..
tak terasa aku menkmati setiap penampilan yang disuguhkan band2 yang tampil, ada yang berkualitas sangat bagus, ada juga yang cuma asal2an naik keatas panggung dengan skill seadanya cuma untuk cari muka di panggung,
tapi overall aku suka dengan penampilan mereka,
sampai akhirnya band panitia naik keatas panggung, aku tdak ikut manggung, malam itu aku memilih menjadi penonton saja,
harus kuakui suara ari memang bagus, suaranya yang serak2 basah membuat lagu itu semakin enak didengar,
aku meminum milk shake yang kupesan, dan tiba2 seikat bunga mawar disodorkan kearahku, ternyata ari..
“ini buat kamu ris, tolong diterima ya” dia memberiku bunga di depan orang banyak, membuatku tidak bisa menolak. pasti akan membuat dia malu juka aku menolaknya,
aku bukan tipe orang yang senang mempermalukan orang lain, aku menerimanya sambil tersenyum
“makasih” kata2 itu terucap dari mulutku,
ari :”gimana tadi penampilanku, bagus gak??”
aku :”bagus kok ri”
ari :”jelaslah aku yang palng jago disini” dia mulai menyombongkan dirinya lagi,
ari :”dan ris, tau alasan bunga itu aku kasih??”
aku :”kenapa emang??”
ari :”itu tanda aku nembak kamu, dan karena kamu udah menerimanya sekarang kita resmi pacaran ya” dia memegang tanganku,
apa2an orang ini seenaknya mengatakan hal semacam itu, itu bukan nembak itu menjebak, hanya karena aku menerima bunga itu lantas bukan berarti aku langsung menerimanya sebagai pacarnya,
emang aku cewek apaan dikiranya segampang itu, ditambah aku sudah milik orang lain, berkali2 aku mengatakan kalau aku sudah punya pacar kepada ari, tapi dia masih getol mendekatiku,
dan malam itu dia malah nekat nembak aku..
aku memutar otak agar dia tidak merasa dipermalukan didepan orang banyak, dia mengatakan itu didepan teman2nya, mereka semua menunggu jawaban dariku.
aku diam sambil tersenyum tipis, untuk menutupi rasa jengkelku, tentu saja jawabanya enggak, tapi aku berusaha menolaknya secara halus, aku tidak mau dicab cewek belagu,
“gimana resmi ya” , ari menekanku kembali,sedangkan aku masih diam, dalam hati aku mengumpat, sialan anak ini, dia memojokanku disituasi seperti ini,
“aku ketoillet bentar ya sayang” dia dengan gaya prelentenya memanggilku sayang dengan seenaknya, dia berjalan menuju toilet sedangkan aku tetap duduk untuk berpikir bagaimana mengatakan kalau aku menolaknya,
kira2 apa yang akan dilakukan mas rizal kalau tau aku diperlakukan seperti ini, mungkin dia akan bersikap kalem seperti biasa, ya mungkin dia akan dengan kalem memukul mulut ari,
“gimana sayang? kita deal ya” lagi2 dia terkesan memaksa, deal? apa ini kesepakatan jula beli? dia sama sekali tidak menghargaiku sebagai seorang wanita.
.
“maaf kak, aku gak bisa nerima ini. makasih tapi maaf aku berkali2 bilang sama kakak kalau aku udah punya cowok, meskipun dia lagi jauh aku gak mungkin nerima kakak”
ekspresi wajah ari langsung berubah, dia memang terkenal tempramental, dia sering terlibat perkelahian hanya karena masalah sepele,
“kamu jangan bohong!” dia membentaku, dan menggandeng tanganku menuju ketempat yang lebih sepi.
“kamu bilang kamu punya cowok??!! itu alesanmu aja kan??, siapa nama cowokmu?” dia bertanya dengan nada tinggi dan mebentaku, perlakuanya sungguh membuat aku ikut emosi, tapi masih bisa aku tahan
“rizal” jawabku dengan pelan,
ari : “jangan coba bohong deh!, aku baru ketemu orang yang ngaku namanya rizal tadi didepan toilet!, dan kamu tau dia bilang apa? dia bilang dia cuma mantanmu!!”
what?? mas rizal? itu gak mungkin dia gak mungkin disini, sekalipun dia disini dia gak mungkin omong kayak gitu..
aku :”oh ya? gimana ciri2nya?” aku mencoba mengetes apakah ari berbohong atau tidak,
ari mengatakan ciri2 mas rizal dengan tepat, bahkan dia mengatakan kalau dia memakai sebuah gelang kulit, gak mungkin ini mustahil, kenapa mas rizal gak menghampiriku?
aku :”kamu bilang apa sama dia”
ari :”ya aku bilang kalo aku cowokmu lah, mau bilang palagi, udah lah risa lupain dia kamu lebih cocok sama aku, apa yang kamu arepin dari cowok freak kayak dia, kamu udah gak punya alesan nolak aku”
bruukkk!!!!
tanpa babibu aku memukul hidung cowok menyebalkan itu, aku tidak peduli dengan hidungnya yang berdarah, dia tampak kesakitan, meskipun aku cewek dulu aku adalah atleet silat juga, pukulanku pasti juga akan membuat dia sakit,
sbenarnya ingin aku tambahi rasa sakit diwajahnya tapi aku berusaha menjaga emosiku..
“kamu keterlaluan!!!” aku berteriak sambil berlari keluar cafe, aku menghiraukan tatapan orang2, aku menuju taxi yang ngetem dipinggir jalan..
“pak antar saya pulang” kataku kepada driver taxi itu,
tak henti2nya aku memikirkan mas rizal, kenapa dia tidak mengabariku, kenapa dia tidak menghampiriku??, dia bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain, pasti dia cuma berusaha kalem dan memilih mengalah dan sedang berada dirumahku untuk menungguku,
“apa yah??, mas rizal udah pamit?” tanyaku dengan tidak percaya kepada ayahku sambil membuka kotak berwarna merah yang kata ayah merupakan kado dari mas rizal,
sebuah harmonika, tapi fokuku berada pada sepucuk kertas yang terselip di situ,
aku mebacanya……… ya ampunnn,,
“yah aku nyusul mas rizal dulu, dia salah paham”
ayahku mengizinkan sambil berpesan untuk menyelesaikan masalahku baik2.
“mass!!, mas!!!,” akku mengetok pintu rumah mas rizal, gerbangnya tidak dikunci artinya mas rizal belum kembali ke melbourne, lampu dirumahnya menyala, tapi pintunya terkuci, aku mengintip ke garasi
ahhh dia tidak dirumah, mobilnya tidak terparkir di garasi,
dia pasti pulang sebentar lagi, aku akan menunggunya,
aku menghampiri sopir taxi yag mengantarku itu, dan menuruhnya tidak menungguku..
aku menunggu di depan pintu dengan gelisah, “mass, ayolah pulang.. aku nunggu kamu disini”
satu jam
dua jam
tiga jam
empat jam, sampai aku mendengar adzan subuh berkumandang mas rizal belum juga kembali,
aku menunggu disini semalaman, aku menangis disini semalaman, aku berpikir disini semalaman,
memikirkan siapa lagi kalau bukan mas rizal…
aku harus pulang, aku gak mau ayah juga ikut khawatir ditambah ada pratikum yang tidak boleh aku tinggalkan..
aku mnulis pesan yang aku tempelkan dipintu
“mas kamu sudah pulang, dan tolong pulanglah ke aku, kamu salah paham, aku masih menjaga ruang hatiku tetap untukmu”


Sumber Kaskus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Best Dating Sites
Platform Pengiriman Pesan Instan
Platform Sosial Media

Top Profiles
Siska Media di TikTok
10.0/10
Siska Media di TikTok
Channel Siska Media di Youtube
10.0/10
Channel Siska Media di Youtube