100 Tahun Setelah Aku Mati ( Bagian 23 Tahun Penyembuhan )

sudah beberapa minggu risa dirawat kondisinya juga lebih stabil, dan oprasi patah tulang pun sudah dilakukan dengan berhasil,
risa sudah dipindah dari kamar icu ke ruang rawat umum,
saat itu saya sedang menunggu risa dikamarnya bersama kedua orangtuanya, risa masih belum sadarkan dir tapii pada hari itu…
.

om hamzah : “buu.. lihat!…”
om hamzah tiba2 berseru dan membuat obrolan kami terhenti, kami sontak melihat kearah yang om hamzah lihat, kearah risa..
risaaa diaaa …..
Tante ndari :”risa… nakkk, sudah bangun kamu, tante ndari memeluk kepala risa sambil menangis tersedu2,
om hamzah jugaa melakukan hal yang sama, beliau2 pasti senang melihat anak semata wayang mereka berhasil melewati fase kritis, dan kini sudah bangun dari komanya.
saya tidak henti2nya bersyukur melihat risa yang sudah siuman, rasa khawatir saya dan kedua orangtua risa dibayar dengan lunas olehnya, saya masih terpaku ditempatku berdiri, saya masih melihat risa yang terbengong bengong, wajar dia pasti bingung dengan yang terjadi, yang paling membuatku lega adalah risa sudah bisa berkomunikasi walaupun dengan suara yang tidak teratur, artinya gagar otak dikepalanya tidak parah…
risa masih tampak bingung, selama beberapa menit dia terlihat seperti memikirkan sesuatu sambil memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.
om hamzah : “jangan memaksakan diri, ayah panggil dokter dulu” ujar beliau meninggalkan ruangan kami, terlihat sebuah senyuman ikhlas yang selama beberapa minggu ini tidak terlihat kini sudah mengembang di wajah beliau..
saya masih terpaku melihat ibunya risa yang menangis bahagia, tangan kanan risa tidak bisa bergerak karena perban dan gips masih melilit tanganya, begitu juga dengan kakinya..
risa menggerakan tanganya untuk mengelap air mata di pipi ibunya.
“ahhh.. ris, kamu sudah berusaha keras, dasar anak comel sekarang jangan buat aku khawatir lagi” saya hanya membatin, saya masih terpaku di pojok ruangan, sepertinya saya menikmati momen ini, melihat sebuah keluarga bahagia yang sangat bahagia melihat putri cantik semata wayangnya bisa bangkit dari sakitnya..
..
entah apa yang mereka bicarakan, saya tidak memperhatikan pembicaraan antara risa dan ibunya, saya masih asik dengan kalimat syukur dan perasaan yang lega yang berputar di kepalaku.
“nak rizal kok malah diem ayo kesini” suara tante ndari memecah lamuanku, saya segera beranjak menuju tempat risa terbaring.
“hai 😊 “
sebuah kata singkat yang keluar dari mulutku, saya bingung memilih kalimat yang bagaimana hanya kata itu yang terlintas dan terucap..
risa hanya diam,..
beberapa saat kemudian senyum mulai mengembang diwajahnya,
sebuah momen yang benar2 ingin saya pause jika bisa, berminggu2 tanpa omelan dan tanpa celotehan risa membuat saya kangen, dan senyuman risa ini mengobati rasa rindu saya.
“rizal yang tiap hari jgain kamu sayang, tiap pulang sekolah dia langsung kesini nungguin kamu, belajar sama ngerjain pr juga semua disini” tante ndari berkata kepda risa,
saya cuma bisa tersenyum, saya baru pertamakali merasakan ingin banyak bicara ingin sekali rasanya menceritakan semua yang ada dibenaku kepada risa, tapi saya masih menahanya, mungkin risa sudah sadar tapi saya yakin masih belum sadar secara penuh..
tikkk…. sebuah air mata jatuh membasahi bantal tempat risa tiduran. dia menangis ….
“maafin aku ya zalll” tangisanya malah meledak..
“ibuk maafin aku….” beberapa detik kemudian om hamzah sudah berada di ruangan bersama seorang dokter dan perawat..
Risa :”ayahhhh, maaf ya” risa berkata sambil masih menangis,
saya dan kedua orangtua risa belum sempat menanggapinya karena diharuskan untuk mundur, dokter harus mengecek keadaan risa pasca sadar…
“gak perlu meminta maaf ris, aku yang harusnya minta maaf” saya kembali membatin sambil melihat risa dari jarak 3 meter dari tempatnya diperiksa dokter. risa masih menangis, dia menatapku dengan posisi kepala miring, tatapan yang membuatku ingin segera memeluknya.. dia menggerakan bibirnya tanpa bersuara jika diterjemahkan mungkin dia bilang “Aku sayang kamu zal”..
..
dokter menghampiri kami setelah mengecek keadaan risa dan menghampiri kami.
Om hamzah :”buk, risa temenin dulu, ditenangin dulu, biar ayah yang ngomong sama dokter”
tanpa menjawab tante ndari langsung menghampiri risa.
om hamzah :”gimana keadaan putri saya pak dokter?” tanya om hamzah dengan tidak sabar.
dokter :”putri bapak itu luar biasa kuat, daya tahan tubuhnya sangat hebat, pada kasus kecelakaan yang demikian sangat kecil harapan seseorang untuk selamat, tapi putri bapak dengan sangat cepat bisa menunjukan kondisi yang stabil, meskipun sempat koma tapi perkembanganya bagus, dan radang diotaknya juga menyusut dengan cepat, tentu saja kita tidak boleh lengah, nanti kami akan melakukan rekam medis untuk memastikan kondisi putri bapak”
om hamzah :”terimakasih dok, saya tnggu kabar baik yang lain”
saya hanya memperhatikan pembicaraan beliau2, saya menghela nafas dengan perasaan pling, om hamzah memegang pundaku erat.
om hamzah :”terimakasih ya nak rizal, semangat hidup anak saya juga berkat kamu”
saya :”saya hanya mendoakan om, selebihnya memang putri om yang benar2 istimewa”
.
om hamzah menghampiri risa dan ibunya, saya mengikuti. ada perasaan bahagia melihat keluarga utuh itu..
seorang ayah, ibu dan anaknya, mereka terlihat bersuka cita,
momen seperti itu tidak akan mungkin aku alami lagi…
“jangan bengong nak rizal, sini ikut duduk jangan sungkan sekarang kamu juga keluarga kami” suara om hamzah membuatk tersenyum lebar..
“kini aku punya keluarga lagi tampaknya” saya bergumam dalam hati, saya menghampiri mereka yang menganggapku bagian keluarga mereka.
.
.
hari itu adalah 9 hari setelah risa sadar, saya masih disekolahan, menguruskan beberapa perijinan untuk risa,
yahh risa diharuskan menjalani perawatan selama beberapa bulan dirumah sakit dan pengobatan jalan dirumah juga selama beberapa bulan, jika dihitung mungkin memerlukan sekitar 1 tahun penuh, ini adalah semester kedua saya dan risa bersekolah di sma, lalu bagaimana nasib pendidikan risa? dengan sangat terpaksa risa harus mengulang di kelas 1 lagi ditahun berikutnya.
saya masih terduduk disebuah bangku panjang yang terletak dibawah pohon ketapang, saya baru selesai mengurus perijinan tadi, dan membuka2 buku pelajaran untuk besok sambil minum sebuah air putih yang kubawa dari rumah..
“hey anak kurus” sebuah sapaan dari seorang yang kukenal.
“iya sus, bentar nanggung nih” ucapku tanpa menoleh sambil menghabiskan bacaaan mapel bahasa indonesia.
Susi :”udah makan belom zal”
saya :”udah sus” kataku berbohong.
susi :”makan apa cobakk?, boong kan? ya kan ya kan “
saya :”makan angin 😁 “
susi :”dasaarrr, makan diluar yuk zal, sambil muter2 biar kamu gak serius terus tampangnya” susi mulai merajuk..
saya menimbang2 ajakan susi, yaa sesekali mungkin saya harus mengiyakan tawaranya.
saya :”ayo deh sus, mau kemana?, tapi kamu naek apa berangkatnya?”
susi :”aku lagi pengen ke mcD hehe, aku yang traktir wis zal yaya, aku biasanya antar jemput kok”
saya :”iyadeh kalo ada traktiranya, aku cuma pake pespa bututku lho ya, kalo kamu mau bonceng motor butut ya gapapa” jawabku sambil cengengesan.
susi :”ahh yang penting bukan motornya zal, tapi yang ngeboncengin aku” jawabnya dengan sangat manis..
saya :”okelah, kamu langsung keparkiran dulu ya, aku tak pinjem helmnya pak bo dulu buat kamu”
susi :”iya zal, aku tunggu ya 😊”
susi berjalan menuju parkiran, saya segera membereskan buku dan menuju rumah pak bon yang berada dalam sekolahan..
saya membawa helm buluk dari pak bon dan memakainya sendiri, susi saya berikan helmku, gak iklas aku rambut susi yang aduhai jadi kutuan gara2 helmnya pak bon 😁.
saya :”siap sus??.”
susi :”ayo zal berangkat,”
motorr keluaran taun 67 itu melaju dengan pelan, sepanjanng perjalanan susi sangat cerewet seperti risa, dan seperti biasa saya hanya menanggapi ocehanya dengan adem2 aja..
langit kota jogja sudah menghitam, waktu itu adalah bulan maret, harusnya hujan sudah jarang2, entah kenapa dengan hari itu..
saya mempercepat laju motorku , dan kami sudah sampai di parkiran restora fast food itu.
kami langsung menempati tempat duduk depan jendela besar.
kami memesan pesanan kami masing2, selalu ada saja yang dijadikan bahan obrolan oleh susi, mulai dari cara berpakaianku, temen2 disekolah, kelakuan konyolnya dirumah dan hal2 gak penting lainya.
susi :”zalll, kamu omong apa gitu kek, dari tadi ah oh ah oh aja -_- “
saya :”aku bingung sus mau omong apa sama kamu” jawabku pelan..
susi :”kalo sama risa bingung gak?”
saya :”welll. kayaknya aku emang gini sus, sama aja, boring yak”
susi :”yaa egak gitu sih zal, kamu mau aku ajak pergi berdua aja udah ajaib menurutku”
saya melihat jam tangan saya.
susi :”kenapa zal?, ada acara?”
saya :”ya nanti aku mau nungguin risa lagi, dia pasti juga bosen tiduran terus”
susi :”bisa perhatian juga kamu zal, bagi dikit dong perhatianmu ke aku”
saya mengangguk pelan..
saya : “cabut yuk, ajaku setelah ritual makan dan obrolan yang tidak produktif itu berjalan lama”
susi :”ayo deh, kasian risa nunggu pangeranya, tapi anterin aku sampe rumah ya”
saya mengangguk pelan sambil memakai jaketku.
motor tuaku melaju dengan lumayan kencang, saya melihat awan hitam yang sudah hitam pekat beserta angin pertanda hujan badai akan segera menyapu daratan kota jogja.
benar saja 5menit kemudian.. bressssss
hujan datang dengan angin yang kencang, posisi kami saat itu berada di lampu merah, berada di tengah antrian kendaraan dan sangat tidak memungkinkan untuk menepi, mau gak mau saya dan susi harus menerima guyuran air hujan dan hembusan angin yang sangat kencang.
seperti gak sampai disitu kesialan kami 2 mobil didepanku ngadat ditengah2 jalan hingga menambah macetnya jalan yang diguyur hujan deras.
saya :”sus pegangin tasku dulu ya..” kataku sambil menyerahkan tasku dan melepas jaket berbahan parasit yang kedap air milik almarhum bapak,
saya : “kamu pake ini, tasku sama tasmu masukin di dalem jaket ya…” saya sedikit berteriak supaya susi dapat mendengarku.
susi :”zal kamu gapapa?? tanya susi”
saya :”gapapa cuma ujan gini doang, yang penting kamunya gak kebasahan” jawabku berseru, saya berusaha melepaskan diri dari antrian lalulintas yang padat ini, mencari celah untuk dapat keluar dari jebakan macet….
dan akhirnya kami bisa lolos. rumas susi masih lumayan jauh sekitar 20 menit, saya menyarankan untuk menepi tapi susi bilang udah kepalang basah, sekalian aja ujan2an sampe rumanya.. saya menyetujuinya dan memacu motor dengan hati2,
glarrr !!! suara guntur juga bersautan, saya sempat kaget demikian juga dengan susi yang kini sudah melingkarkan tanganya keperutku sambil menempelkan kepalanya kepundaku..
Susi :”zal, aku takut petir” teriaknya dari belakang.
saya :”jangan takut, aku disini kok” jawbku dengan kencang,
tampak susi merespon kata2ku dengan lebih erat melingkarkan tangan diperutku..
cukup sulit berkendara ditengan hujan dan angin kencang dengan helm tanpa kaca pelindung, air hujan yang terbawa angin seperti tusukan jarum yang mendarat di wajahku..
setelah mendengar petunjuk rumah susi kami sudah sampai dirumahnya..
sebuah rumah di kompleks perumahan elit, bahkan lebih besar dari rumahku dan rumah risa jika disatukan..
seorang bapak2 menggunakan payung berlari untuk membukakan gerbang, “matur suwun pak” ucapku sambil menjalankan motor untuk masuk kerumahnya susi..
saya memarkirkan motor di dekat 2 mobil bermerek kijang dan baleno..
susi :”mampir dulu ya zal, ujan badai kayak gini bahaya” susi membujuku.
saya :”iya sus, tp ini aku kebasahan, takut ngotorin rumahmu”
susi :”ahh sama sekali enggak kok, ayooo” susi menggandengku masuk kerumahnya, hmmm bagus sekali rumah susi ini.
susi memintaku menunggu sebentar di teras, dia langsung berlari kedalam dan beberapa menit kemudian dia sudah keluar dengan membawa sebuah handuk..
susi :”di keringin dulu zal”
saya :”makasih sus”
saya mengelap badanku dengan handuk,
susi :”ayo masuk, tak cariin baju ganti”
susi memintaku masuk, dan saya menunggu diruang tamu.
dia mungkin menuju kamarnya untuk ganti baju juga..
saya tidak berani duduk di sofa karena masih basah kuyup, saya hanya berdiri sambil melihat ruang tamu ang cukup luas itu, sebuah foto keluarga, ayahnya susi,ibunya, dan seorang dengan perempuan yang lebih kecil dari susi, mungkin adiknya,saya membatin.
“maaf zal lama” susi berbicara dari arah belakangku sambil membawa beberapa pakian.
susi :”zal, kamu ganti baju dulu ya” ucapnya
saya mengangguk dan ditunjukan kesebuah kamar mandi oleh susi,
saya mandi dan memakai baju yang diberikan susi,
“ini mah baju cewek” gumamku sedikit kesel..
saya keluar dengan pakaian yang sangat ketat berwarna kuning ngejreng.
susi : “ahahahaha duhh zal, kok kamu bisa jadi kayak gitu bentukanya?” susi tertawa ngakak
saya :”dari pada bugil sus -_- “
susi :”wkwkwk, keren kok zal, makin keliatan atletis”
saya :”wadehel sus -_- “
saya melihat jam tangan, sudah hampir maghrib, harusnya saya menemani risa tapi malah terjebak disini..
saya mendekati susi
saya :”sus, makasih ya” ucapku sambil menatap matanya.
susi seperti menahan sesuatu saat saya menatapnya.
susi ;” iya zal, disini dulu ya sampe ujanya berhenti” pintanya lagi.
saya menggeleng pelan.
saya :”maaf ya sus, risa udah nunggu aku, aku harus balik sekarang, oh iya kalo boleh minta tolong, aku pinjem mantol dong”
susi hanya terdiam… dan berlalu sambil mengangguk.
susi :”ini zal, kamu hati2 ya, ujanya masih deres” ucapnya pelan.
saya :”makasih ya sus, hari ini menyenangkan” kataku sambil mengusap rambutnya.
susi :”aku yang makasih zal, aku seneng banget, dan ucapin makasih juga ke risa”
saya :”makasih untuk??”
susi :”udah minjemin kamu buat aku sore ini, ya meskipun seneng, aku harus ngebalikin sama yang punya juga kan, mau senengnya gimana kamu tetep bukan punyaku”
saya mencerna kalimatnya, dan berusaha memikirkan jawaban perkataan susi tadi..
saya memilih tidak menjawabnya dan hanya mengulurkan tangan untuk bersalaman denganya.
susi mengantarku sampai depan pintu, saya mengendarai pespaku dengan pelan, hujan masih sangat deras, tapi paling tidak saya terlindungi dengan jas hujan pinjaman susi,
tampak dari spion motorku,susi masih berdiri bengong di ambang pintu, sampai saya tidak melihatnya lagi di belokan gerbang…
.
.
.
.
saya sudah sampai di perkiran rumah sakit, dan memarkirkan motor dan menuju mushala karena waktu sudah menunjukan pukul 18.00
“alhamdulillah” gumamku setelah melaksanakan shalat wajib.
saya berjalan menuju kamar rawat risa,
“assalamualaikum” saya mengucapkan salam di depan pintu kamar risa,
“walaikumushalam, eh nak rizal.. dari rumah ya?” tanya tante ndari yang membukakan pintu.
saya :”dari rumah temen tante 😊 “
saya melihat risa dengan sebuah selang masih tertancap dihidungnya. dia tersenyum sangat manis kearahku..
risa :”haiii 😊 , kamu lagi ketemu sisi feminimu zal??” risa terkekeh pelan melihat bajuku yang sangat ketat berwarna kuning bergambar bunga..
saya :”hehe, apa boleh buat, ini kepaksa daripada basah2an” jawabku sambil duduk di dekat ranjang.
tante ndari :”nak rizal, boleh titip risa sebentar?, saya mau ambil baju dan keperluan buat risa dirumah, ayahnya lagi ada dinas penting jadi belum bisa kesini”
saya :”oh iya tante silahkan, risa biar saya yang jaga”
tante ndari berpamitan denganku untuk pulang sebentar..
saya dan risa hanya saling memandang beberapa menit, entah apa yang ada dipikiranku dan risa saat itu,
risa :”gimana sekolahnya hari ini zal?” tanya risa memecah kebisuan diantara kami..
saya :”kayak biasa sih ris, berangkat,belajar, pulang, tadi mampir makan bentaran” jawabku sambil menyibakan beberapa helai rambut risa yang menutupi keningnya.
saya :”kalo kamu?, gimana dengan hari ini”
risa :”bosen zal, gak ada yang bisa aku jadiin obrolan, aku gak boleh omong banyak2 sama dokter” jawabnya dengan lirih dan lemah, memang kondisi risa masih sangat lemah kadang suaranya bahkan tidak terdengar..
saya :”kamu akan segera sembuh ris” jawabku sambil menarik selimut untuk menyelimutinya..
risa :”asal ada kamu disini zal”
saya :”aku bakal ada disini ris” jawabku meyakinkan risa.
risa kembali tersenyum, senyuman yang selalu membuat saya rindu itu mengembang diwajahnya..
risa :”tadi makan dimana zal?, aku jadi gak bisa masak buat kamu lagi” tanya risa dengan nada datar.
saya :”besok kalo uda sehat kamu boleh masak sepuasmu, tadi aku ditraktir sama susi”
risa hanya memandangku dengan tatapan sayu,
Risa :”zal.. kamu sama susi emmmmmm” kata2 risa seperti tertahan ingin mengatakan sesuatu..
saya menyentil pelan ujung hidung mancung risa..
saya :”gak ada apapa ris, cuma kebetulan aja tadi”
risa :”ya zall… aku juga paham aku sekarang lagi kayak gini, wajar kalo kamu bosen sama aku”
saya :”ngomong apasih kamu?”
risa :”zal, kamu tau ? mungkin setelah ini aku cuma bakal hidup diatas kursi roda, mungkin aku bakal cacat seumur hidup, kamu juga gak wajib menepati janjimu dulu, kemarin aku ingin berusaha memantaskan diri buat kamu tapi sekarang aku sadar zal, seberapa pun aku berusaha aku gak akan pernah pantes buat kamu, gak akan sama lagi zal” risa memiringkan kepala kearahku duduk 2 titik air mata kembali jatuh ke bantal..
risa :”dan zal, mungkin kamu harus punya teman baru selain aku mulai sekarang”
.
cuppppppp… saya menyentuh kening risa, kali ini dengan bibir saya.
“jangan bicara aneh kayak gitu,kamu bakal sembuh, dan selama proses kesembuhanmu aku janji ris bakal njaga kamu terus, setelah kamu sehat,dan aku janji gak akan biarin kamu kamu kayak gini lagi, ris apapun yang terjadi aku gak peduli, kalau kamu harus pakai kursi roda seumur hidupmu setelah ini, aku bakal ada disamping kursi roda itu seumur hidupku, aku bakal nepatin janjiku.
kamu tau ris?, aku sayang kamu seperti kamu sayang aku”


Sumber Kaskus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Best Dating Sites
Platform Pengiriman Pesan Instan
Platform Sosial Media

Top Profiles
Siska Media di TikTok
10.0/10
Siska Media di TikTok
Channel Siska Media di Youtube
10.0/10
Channel Siska Media di Youtube